Merajut Hidup, Merajut Tenun Naisa

Sehelai demi sehelai benang diselipkan dan diikat pada benang lain yang berdiri tegak pada kerangka kayu. Jemari keriput tak menunjukkan ketuaannya, melainkan menunjukkan kelihaian menyelipkan, mengulur, menarik, dan mengikat helaian benang. Gerakan itu dilakukan berulang-ulang, satuhari, duahari, tigahari, sebulan, duabulan, hingga enambulan. Begitulah tenun Naisa dibuat oleh Mama Lodya dari Desa Fatumnasi, Kabupaten Timor Tengah Selatan.

Menunggu, sepatutnya pekerjaan yang patut dihargai dan tak selalu jadi hal yang sia-sia. Begitu juga dengan kain tenun, menunggu proses dengan kesabaran dan ketelatenan ekstra. Setiap helai tenun, di sanalah jiwa dan peluh penenun hidup membawa makna terselubung yang tak diketahui banyak orang.

Setiap wilayah di Indonesia memiliki tradisi tenun dengan corak dan pandangan masing-masing. Pembuatan tenun manual umumnya membutuhkan waktu yang bervariasi, mulai dari hitungan minggu, bulan, bahkan tahunan.

Tak terkecuali tenun di Desa Fatumnasi, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur. Tenun ini menjadi salah satu kain yang paling dicari para traveler dan peminat kain tenun karena motif dan proses pembuatannya yang membutuhkan kesabaran ekstra.

Tenun Naisa namanya. Naisa artinya hutan. Corak kain naisa ini termasuk sulit didapatkan. Di Desa Fatumnasi hanya dua orang perempuan saja yang diandalkan untuk membuatnya. Salah satunya wanita yang kerap disapa Mama Lodya.

Menenun adalah napas Mama Lodya untuk menghidupi anak-anaknya. Selembar tenun Naisa di Desa Fatumnasi ini dibuat enam hingga dua belas bulan lamanya. Dari helai-helai benang yang dirajutnya secara manual itulah ia membiayai sekolah anaknya hingga Perguruan Tinggi. Dari helai-helai benang yang diikatnya setiap hari, ia menghidupi keluarganya sehari-hari.

Kain yang Mama Lodya buat bercorak segitiga berwarna putih pendar, ungu, hitam, biru toska, dan hijau muda. Paduan warnanya begitu memikat. Mengenakan kain ini seakan merasakan kehangatan ketulusan hati Mama Lodya.

Karena proses pembuatannya manual satu per satu dengan menggunakan tangan, selembar tenun Naisa ini dihargai sekitar 1 sampai 2 juta Rupiah. Memang tidak murah, tetapi memahami proses pembuatannya yang tidak mudah, Tenun Naisa layak dijuluki sebagai tenun dengan kualitas premium.

Minat mengulik lebih jauh kain tenun Naisa? Yuk, rencanakan ke Fatumnasi!

Penulis: Eddy Prayitno

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *