Membuai Ratu Lebah untuk “Mencuri” Madu Mollo

Tautan antara hasil alam dan tradisi yang melebur, membuat sebotol madu dari Mollo menjadi istimewa. Bukan soal harga dan bagaimana rasanya, tetapi kisah memanen dan prosesnya yang membuat madu ini berharga.

Mollo, sebuah daerah berlokasi di Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur. Selain tenun, biasanya traveler juga mencari madu di sini.

Dicky Senda namanya, ia seorang penggiat Komunitas Lakoat Kujawas. Komunitas ini digandrungi muda-mudi yang bersemangat membuka layar wisata di Kabupaten Timor Tengah Selatan. Mereka selalu memperkenalkan madu dari desa adat yang ada di kabupaten tersebut. Dicky menekankan, bukan madu yang dijual, tetapi kisah bagaimana pengambilan madu.

Tidak sembarang orang bisa mengambil madu. Meo Oni, seorang yang terpilih secara khusus untuk mengambil madu. Salah satu ritual yang Meo Oni lakukan ialah membuai Ratu Lebah dengan syair dan pujian. Ucapan ini ibarat doa yang memiliki kekuatan kuat. Seperti istri lain, kata Dicky Senda, proses panen madu ini dilakukan agar Meo Oni tidak diserang lebah.

“Orang membeli madu dari Mollo, karena cerita di balik proses pengambilan madu, yang di satu sisi madu ini masih sangat terjaga karena ini diambil dari hutan tanah-tanah Ulayat atau hutan adat,” tutur Dicky Senda.

Ternyata, Meo Oni yang terpilih perlu menjalani beberapa pantangan dan ketentuan adat istiadat wilayah setempat. Beberapa hari sebelum panen, ia tidak boleh memiliki pikiran negatif, salah satu caranya dengan bersemedi. Bila ada ritual yang terlewatkan, Meo Oni bisa jatuh, bisa meninggal, atau dia sakit.

Dicky Senda dan kawan-kawan selalu menerakan potongan cerita ini dan alamat pada kemasan madu yang dijual, sehingga konsumen tak hanya bisa membeli madu Mollo, tetapi juga bisa menelusuri kisah di balik madu yang direguknya.

 

Penulis: Manda Mandes | Eddy Prayitno

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *