Masih Ada Pemuda yang Mainkan Karungut

Langkahku terhenti saat mendengar petikan dawai kecapi dan suara lirih sang pelantun pantun klasik khas Suku Dayak. Aku segera menghampiri keempat anak muda yang memainkannya, mengambil gambar, dan berbincang, usai mereka menuntaskan serangkai syair kebijakan yang merupakan kesenian khas Suku Dayak di Kalimantan Tengah.

Keempat anak muda itu berasal dari sebuah Kabupaten di Kalimantan Tengah: Murung Raya. Mereka bernama Kia, Jojo, Widu, dan Supri. Widu dan Jojo berasal dari Kabupaten Murung Raya, tepatnya di daerah La’as, Uut Murung. Di tempat asalnya itulah, terdapat Tugu Khatulistiwa, yang aku jejaki sehari sebelum bertemu mereka.

Karungut yang kusaksikan ini dimainkan dengan alat musik tradisional. Kia menabuh gendang, Jojo dan Widu memainkan Kecapi sekaligus sebagai vokalis. Sedangkan Supri memukul Gong. Perpaduan suara vokalisnya yang khas dan alat tradisional itu menarik sekali.

Lantunan syair yang disuarakan oleh Widu dan Jojo merupakan sastra lisan berupa pantun. Pantun tersebut mengisahkan syair-syair kebajikan dengan meramu bermacam legenda, nasihat, teguran, dan peringatan mengenai kehidupan sehari-hari.

Aku sebenarnya tak mengetahui arti dari pantun yang dinyanyikan Widu. Sebab ia menyanyikannya bukan dengan Bahasa Indonesia melainkan dengan Bahasa Dayak, yang disebut Bahasa Sangiang. Menurutnya Bahasa Sangiang memiliki nilais astra yang tinggi sehingga menjadi Bahasa wajib saats uku Dayak melakukan ritual dan upacara adat.

Selain dalam kegiatan adat, Karungut juga biasa dinyanyikan ibu-ibu suku dayak saat menidurkan anaknya. Bersenandung, semacam indung-indung kalau di Jawa. Hanya suara saja tanpa alat musik.

Saat menyimak penjelasan dari keempat anak muda Suku Dayak itu, aku menaruh respek terhadap mereka. Betapatidak, saat anak muda seusia mereka hanyut dalam kesenian dan budaya global, mereka tetap mencintai dan merawat akar budaya mereka sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *