Rumah itu berdempetan itu beratap alang-alang dan berdinding anyaman. Ratusan rumah dihuni oleh sekitar 250 kepala keluarga Kampung Sade, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Satu tradisi yang memikat dari Desa Sade adalah semua penduduknya bertalikan saudara.

Namanya, Talim. Ia bersama dengan beberapa penduduk Desa Sade, bertugas membawa wisatawan yang berkunjung ke Desa Sade. Biasanya, wisatawan diminta untuk mendaftarkan diri dan memberikan sumbangan secara sukarela.

“Nama saya Talim. Tapi ‘T’nya jangan diganti ‘S’, nanti jadinya Salim,” ia membuka perkenalan seraya bercanda.

Talim bersemangat menjelaskan bagaimana tata cara pernikahan di Desa Sade. Tidak seperti masyarakat modern, Desa Sade memiliki tata cara perkawinan yang berbeda. Kedua calon pasangan tidak diperkenankan melamar atau bertunangan, karena sudah melanggar adat.

Di sini dikenal dengan istilah kawin lari atau kawin culik. Kedua pasangan harus suka sama suka. Mereka diam-diam menginap di rumah saudara mereka yang ada di luar Kampung Sade selama tiga malam. Tentunya, kawin lari ini dilakukan tanpa sepengetahuan orangtua mereka.

Kawin lari ini dilakukan tanpa ada unsur paksaan dari siapapun. Baik dari orangtua maupun kerabatnya.

Biasanya, baik pria maupun wanita di DesaSade ini menikah di usia 17 tahun. Salah satu tradisi di Kampung Sade ini adalah semua gadis yang belum menikah harus bisa menenun. Talim menjelaskan, gadis yang tidak bisa menenun bisa saja tidak diajak menikah oleh pria.Itulah sebabnya, menenun menjadi keterampilan yang penting dimiliki setiap wanita di Desa Sade. Boleh jadi Karena tradisi tersebut, tenun mampu mengangkat perekonomian Desa Sade.

Talim bertutur, setelah sepasang kekasih bertemu dan menikah sesuai tradisi Sasak, mereka akan menetap di Bale Tani atau sebutan rumah tinggal masyarakat Kampung Sade. Rumah tersebut berdiri berdempetan dan berundak-undak.

Pemandangan ini menjadi potret kesederhanaan Kampung Sade yang memikat wisatawan. Belum lagi, hasil kerajinan tangan mereka berupa kain tenun, gelang khas Lombok, kopi beras, kalung, dan cindera mata lainnya bisa dinikmati dan dibawa pulang oleh wisatawan.

Bagi traveler yang penasaran dengan kisah dari DesaSade, jangan ragu LINGKARI Kampung Sade di daftar destinasi wisatamu!