Bukan Sekadar Rumah, Bale Tani Corak Kehidupan Penduduk Kampung Sade

Rumah beratap alang-alang berderet dan berundak-undak memenuhi Desa Sade yang luasnya mencapai sekitar 5,5 hektar. Hunian sederhana berpondasi tanah liat itu bukan sekadar tempat tinggal untuk tidur. Bagi masyarakat Desa Sade, rumah memiliki makna filosofis yang menggambarkan kehidupan mereka.

Talim, salah seorang pria asal suku Sasak dari Kampung Sade ini selalu bersemangat memperkenalkan daerahnya kepada para wisatawan yang datang ke kampungnya. Setiap wisatawan yang datang, Talim selalu membawa mereka bertandang ke salah satu hunian Bale Tani.

Bale Tani merupakan rumah tinggal masyarakat Kampung Sade, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Disisipi kata ‘tani’, karena penduduk Kampung Sade memiliki matapencaharian sebagai petani.

“Di sini kita bertani padi sekali dalam setahun saja, karena tidak ada sistem irigasi,” ujar Talim.

Bale Tani ini terbagi atas dua ruangan, yakni ‘sesangkok’ pada bagian depan dan ‘dalam bale’ pada bagian belakang. Keduanya memiliki fungsi yang berbeda.

Sesangkok, ruang pada bagian depan ini digunakan untuk menerima tamu dan tempat tidur orangtua. Sementara, dalam bale, digunakan untuk tempat memasak. Adapun bilik kecil di sebelah kanan, biasa digunakan untuk persalinan.

Sementara itu, antara sesangkok dan dalam bale dihubungkan dengan tiga anak tangga. Tiga tingkat anak tangga menggambarkan kepercayaan nenek moyang penduduk Kampung Sade yang memeluk tiga  agama. Biasanya, mereka menyebut dengan istilah ‘Telu Welu’. Tiga agama yang dianut antaralain Animisme, Islam, dan Hindu.

“Tapi sejak tahun 1965 masyarakat di Kampung Sade ini sudah menganut agama Islam 100%,” tambah Talim seraya melanjutkan penjelasan mengenai Bale Tani.

Sebelum zaman itu, hanya para Kyai yang menjalankan ibadah sholat dan puasa, sementara penduduk lainnya tidak. Termasuk mengucap salam, penduduk lokal belum terbiasa. Salam merupakan wujud penghormatan terhadap sesama.Salah satu ciri masyarakat Sade saling menghormati dapat dilihat dari pintu rumahnya yang dibuat agak rendah. Sehingga setiap orang yang masuk harus menunduk terlebih dahulu, sebagai bentuk penghormatan kepada tuan rumah.

Bicara soal bangunan Bale Tani, uniknya, pondasi lantai ini terbuat dari tanah liat. Biasanya, penghuni rumah membersihkan lantai dengan kotoran sapi yang masih baru, seminggu sekali.

Kotoran sapi ini diyakini penduduk dapat memperkokoh pondasi bangunan. Selain itu, penggunaannya dipercaya dapat menangkal lalat dan juga ‘bala’atau kiriman magis.

Daya pikat DesaSade tidak hanya sekadar dari rumah tinggal mereka. Ada banyak warna-warni kearifan lokal yang membuat wisatawan ingin berlama-lama di sana. Belum lagi kreasi tenun, gelang, dan cindera mata lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *