Tenun yang Bercerita

Jari telunjukku menelusuri motif yang terajut pada tenun Mollo. Rasa penasaran ingin mengetahui makna dari tenun ini begitu besar. Tak ada artinya aku memiliki Selembar kain tenun apabila tak kupahami maknanya. Sama seperti kita membeli sebuah buku yang kita banggakan tetapi kita tak pernah tahu apa kisah yang tertulis pada buku tersebut. Buta!

Seperti buku, setiap tenun punya kisahnya masing-masing. Selain tenun di Fatumnasi, kudapatkan juga tenun yang dibuat oleh orang Mollo, yang juga bagian dari Kabupaten Timor Tengah Selatan, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Untuk mendapatkan makna tentu aku harus menemui orang yang pantas bercerita. Dialah Dicky Senda, sastrawan yang juga pegiat ekowisata di kampungnya, DesaTaiftob, Mollo Utara.

Sambil menjembreng beberapa lembar kain tenun yang kutanyakan motifnya, Dicky mulai bercerita. Tenun Mollo dibagi menjadi dua, untuk pria dan wanita. Tidak seperti di bagian Barat Indonesia, kain yang dipakai pria berbentuk sehelai kain. Sementara, wanita mengenakan kain serupa sarung. Setiap kain memiliki ciri khas tenun Mollo, yaitu dua warna yang selalu ada pada helaian kainnya.

“Tenun Mollo itu selalu memiliki warna dominan garis merah dan putih. Jika kita menemukan beragam kain di pasar, di jalan, dengan ciri tersebut, itu berarti dari Mollo,” tutur Dicky Senda.

Orang Mollo memaknai kain tenun mereka sebagai peta yang menggambarkan wilayah ‘ulayat’ atau adat mereka. Warna putih merepresentasikan sungai. Sementara warna merah menggambarkan ume kbubu, yaitu rumah-rumah penduduk Mollo yang tidak jauh dari mata air dan hutan.

Sementara corak garis-garis pada kain tenun Mollo ini melambangkan naisa atau hutan. Alam dan bagaimana kehidupan di Mollo, tergambar melalui makna corak warna dan lambang dalam sehelai tenun.

TenunMollo juga menggambarkan peta sosiologis masyarakat Mollo. Motif tenun Mollo selalu mengibaratkan raja sebagai wakil Tuhan. Ini tertuang dalam corak motif sentral yang dilambangkan sebagai raja dan motif kecil-kecil yang tersebar di sekitarnya diibaratkan sebagai masyarakat.

Menyimak cerita Dicky Senda dari Komunitas Lakoat Kujawas, aku merasa tenun yang kubeli di Mollo ini tak sia-sia. Aku telah memahami maknanya dari orang yang tepat, seperti sebuah novel yang kubaca sampai tamat.

Penulis: Manda Mandes | Eddy Prayitno

Foto: Tenun Mollo, Lakoat.Kujawas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *